Rabu, 03 Juni 2026

PARULTOP-ULTOP OPPUNGNI PURBA PAKPAK

Asal usul Marga Purba Pakpak di Simalungun tidak terlepas dari kisah Raja I Oppung Parultop-Ultop Purba Pakpak dan Partuanon yang dibentuknya.

Alkisah di sebuah kampung bernama BATU SARINDAN (sekarang daerah Singkil, Aceh Selatan) dipimpin oleh Raja dengan gelar TUAN PINTU BATU. Anak tertuanya bernama RAENDAN, yang telah usia dewasa, sebagaimana kebiasaan keturunan Raja masa itu bahwa anak pertama (sulung) dipaikkat (diberangkatkan) mencari luat kerajaannya (wilayah kerajaannya).

Kemudian sang Raja memanggil puang bolon dan para panglimanya untuk melaksanakan pemberangkatan sang anak tertua / tersulung, Raendan, hingga pada saat pemberangkatan sebagaimana biasanya menurunkan segala kemampuan dan ilmu yang dimilikinya untuk diberikan kepada anak tersebut yang kelak akan menjadi Raja di suatu luat (wilayah). Antara lain yang di diberikan dan fakta kita ketahui hingga dewasa ini adalah Ultop. Ilmu yang bisa membuat tidak terlihat hanya dengan berlindung dan memegang pohon sanduduk. dan ilmu lainnya ilmu menghilang yang disebut Siat Alogo Siat Au. Dan masih banyak kemampuan-kemampuan lainnya yang diberikan untuk bekal menjadi Raja.

Bersamaan dengan waktu Raendan dipaikkat oleh Tuan Pintu Batu Sarindan, di daerah Pakpak ada kampung yang bernama Tungtung Batu, masuk kawasan Silima Pungga-Pungga. Di sana sedang terjadi suatu bencana yang sangat menghebohkan yang menimbulkan korban jiwa anak-anak, dimana burung buas yang disebut Manuk-Manuk Sipitu Ulu atau Manuk-Manuk Nanggordaha menyambar anak-anak untuk menjadi mangsanya. Untuk mengatasi keganasan Manuk-Manuk Nanggordaha tersebut, Raja Negeri itu mengadakan suatu sayembara bahwa barang siapa yang dapat membunuh burung Nanggordaha tersebut akan dijadikan menantu Raja dan akan diangkat menjadi Raja Paidua (Wakil Raja).

Mengetahui sayembara yang dibuat oleh Raja Silima Pungga-Pungga, maka Raendan, anak tertua Tuan Pintu Batu Sarindan yang sudah dipaikkat (diberangkatkan) untuk mencari daerah untuk dijadikan wilayah kerajaan oleh Tuan Pintu Batu Sarindan, tanpa berpikir panjang melaporkan kepada orangtuanya Tuan Pintu Batu Sarindan akan ikut serta memburu Manuk-Manuk Nanggordaha demi untuk menyelamatkan anak-anak dan rakyat supaya tidak menjadi korban, tanpa suatu ke kepentingan untuk dijadikan menantu Raja.

Mendengar pernyataan anaknya, Tuan Pintu Batu Sarindan terkejut. Tapi dalam hatinya Tuan Pintu Batu Sarindan semakin yakin keberhasilan anaknya kelak menjadi Raja karena sudah berpikir untuk menyelamatkan rakyat, sehingga disetujuinya anaknya untuk melaksanakan tugas mulia tersebut, sambil berangkat menuju luat yang dianggap patut menjadi kerajaannya.

Keberangkatan Raendan disertai dengan pendamping seorang pemuda yang ditunjuk oleh Tuan Pintu Batu Sarindan. Mereka pun berangkat dengan menunggang seekor kuda putih jantan. Kemudian berangkat memburu manuk-manuk nanggordaha yang menjadi musuh rakyat Tungtung Batu tersebut.

Perburuan manuk-manuk nanggordaha oleh Raendan setidaknya untuk saat itu telah berhasil mengusirnya dari kampung Tungtung Batu. Meskipun tidak terlihat bangkai burung tersebut. Hal itu juga diyakini karena setiap kali mangultop, naggordaha masih mampu terbang dari satu pohon ke pohon lainnya. Tetapi Raendan tidak henti hentinya memburu, sehingga tidak terdengar lagi ada korban anak-anak yang disambar oleh manuk-manuk nanggordaha.

Meyakini tidak ada lagi korban anak-anak dan rakyat pun sudah kembali bisa hidup tenang, Raendan bersama temannya melanjutkan perjalanan untuk mencari luat yang menjadi kerajaannya. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Di tengah-tengah hutan melewati banyak kampung. Raendan terkadang hanya makan burung-burung dari hasil ultopannya. Raendan terus melanjutkan perjalanannya. Dalam perjalanannya, Raendan seringkali melihat keberadaan manuk-manuk nanggordaha dan setiap kali itu juga Raendan mangultopnya. Namun manuk-manuk nanggordaha tetap dapat terbang dari pohon yang satu ke pohon yang lainnya. Begitulah seterusnya dan setelah berbulan-bulan sampailah Raendan di hutan sekitar Sihodon-hodon (sekarang masuk Sipitu Huta).

Setelah istirahat beberapa saat, kembali Raendan melihat burung itu sedang bertengger di atas buar-buar. Raendan membidikkan ultopnya hingga manuk-manuk nanggordaha ken anak panah ultopnya, tetapi burung itu tetap bisa terbang dari satu pohon ke pohon lainnya.

Demikian dalam perjalanannya sambil mencari dan menemukan wilayah kerajaannya, ia akhirnya sampai di sekitar Dolog (gunung) Simbolon. Raendan terus berjalan melalui hutan-hutan melewati gunung tersebut menuju ke arah Timur dan sampailah Raendan di Nagur Raja (Kerajaan Nagur).

Di Nagur Raja pada waktu itu sedang terjadi peperangan sengit dengan kerajaan lain. Tuan Nagur Raja memerintahkan kepada semua pasukannya bahwa semua orang asing yang tidak dikenal agar ditangkap dan dibawa kehadapan Tuan Nagur Raja. Pasukan kerajaan Nagur yang melihat Raendan bersama dengan seorang pemuda yang mendampinginya berusaha untuk menangkapnya hidup-hidup untuk dibawa dan menjadi tawanan Tuan Nagur Raja. Tetapi Raendan dengan ilmu dan kemampuan yang dimilikinya tidak pernah berhasil ditangkap oleh pasukan Nagur. Setiap kali Raendan mau ditangkap, dia sanggup melumpuhkan pasukan Nagur tersebut.

Semakin tersebarlah kehebatan Raendan di wilayah kerajaan Nagur hingga Raja mendapat laporan dari pasukannya. Mendengar berita tersebut Raja Nagur memerintahkan pasukan yang lebih hebat lagi dan dalam jumlah yang lebih besar untuk menangkapnya. Demikian berulang kali Raendan tetap mampu melakukan perlawanan hingga mengakibatkan korban yang banyak di pihak kerajaan Nagur.

Berita itupun kembali didengar oleh Raja Nagur, hingga yang kesekian kalinya pasukan Nagur untuk mencari dan menangkap Raendan tidak pernah berhasil karena yang terakhir kali Raendan terdesak, tetapi dengan Tonah (amanat) yang diberikan oleh bapaknya (Tuan Pintu Batu Sarindan), dua ilmu pamungkas dapat digunakan apabila sudah terdesak yaitu Ilmu Idia Adong Sanduduk Hujolom Lang Taridah Ahu, yaitu ilmu yang bisa membuat musuh tidak melihatnya, cukup dengan memegang pohon sanduduk dan Ilmu Siat Alogo Siat Au (di mana ada lobang yang bisa dilalui udara dia bisa meloloskan diri dari lubang udara tersebut).

Salah satu dari ilmu pamungkasnya yaitu Ilmu Idia Adong Adong Sanduduk Hujolom Lang Taridah Ahu digunakannya pada saat ia terdesak oleh pasukan Raja Nagur yang dalam jumlah besar dengan kemampuan yang luar biasa. Raendan pada saat itu juga berhasil meloloskan diri dari kepungan pasukan Nagur. Saat itu Raendan mendengar pembicaraan pasukan Raja Nagur bahwa nyali pasukan Nagur sudah ciut dan yang menyebutkan salut dan luar biasa bahkan angkat tangan untuk menangkapnya. Terlebih kenyataan tiba-tiba ia bisa menghilang dari kepungan pasukan Nagur.

Begitulah dalam petualangannya, akhirnya Raendan kembali mengingat Tonah (amanat) mencari luat untuk wilayah kerajaannya.

Raendan berjalan terus dan sampailah ia di sekitar Pamatang Purba. Di sini Raendan melihat burung Nanggordaha dan kembali mangultop burung tersebut hingga beberapa hari lamanya. Dan setelah beberapa hari dari perburuannya, Raendan pun menemukan bangkai Nanggordaha di bawah pohon besar di Pamatang Purba. Melihat bangkai Nanggordaha tersebut, Raendan heran dan menjadi tanda tanya besar bagi dirinya karena begitu banyak sudah burung Nanggordaha diultopnya (dipanahnya), baru di sinilah dia menemukan bangkai Nanggordaha.

Raendan melihat bahwa wilayah ini begitu bagus, dengan hamparan tanahnya yang luas, datar, sumber air yang melimpah dan juga subur. Setelah mengamati dan merenungkannya hingga pada akhirnya dia mendapat gorak (petunjuk) bahwa daerah itulah yang menjadi pusat kerajaannya.

Akhirnya Raendan mengumumkan bahwa ia adalah Tuan di wilayah tersebut. Mendengar pengumuman itu, Tuan Simallobong marah bahkan mendatangi Raendan dan mencoba mengusirnya, namun Raendan tetap dengan segala kharisma yang dimilikinya menyatakan dengan tegas bahwa dialah sebagai Tuan di tempat itu.

Mendengar pernyataan itulah Tuan Simallobong marah besar dengan mengeluarkan pernyataan bahwa Tanah Ini Adalah Tanah Kami dan Air Yang Di Sini Adalah Air Kami. Dengan jawaban lembut dan berwibawa Raendan menyatakan kalau memang demikian kata Tuan Simallobong, mari kita buktikan dengan marbija (bersumpah) di tengah Harungguan (rapat besar) dengan Raja-Raja yang lain, sehingga bisa membuktikan siapa sebenarnya yang berhak menjadi Tuan di sini.

Permintaan Raendan dipenuhi Tuan Simallobong, dengan mengadakan harungguan dengan disaksikan oleh masyarakat banyak dan partuanon lainnya. Hingga pada akhirnya ditetapkan harapaton dan parbijaon tersebut. Ketika dilakukan harapaton dan parbijaon itu, Tuan Simallobong mengawali pernyataan yang mengatakan bahwa dialah sebagai tuan di Pamatang Purba karena tanah itu adalah tanahnya dan air yang di sekitar situ adalah airnya, sehingga dialah yang menjadi tuan di tempat itu. Jadi tidak ada alasan Raendan yang menyatakan menjadi Tuan di tempat itu.

Kemudian harapaton meminta Raendan memberikan alasan yang membuat dia menyatakan sebagai Tuan di tempat itu. Raendan sebelum berbicara terlebih dahulu dia di dalam hati menyebut 3 (tiga) nama benda yang disebut Doa Kekuatan. Dia dengan posisi meletakkan ultopnya di samping kanannya sambil dengan sigap meletakkan tanoh sahoppul (tanah segenggam) di bawah dubur, yang telah dibawa-bawanya dan dibekali oleh bapaknya. Diduduki dengan posisi kaki kiri dilipat dengan tumit menutup lobang duburnya dan kaki kanan diletakkan di atas kaki kirinya, sambil berkata dengan lembut tapi tegas dan penuh wibawa.
"Anggo lang tanokku na huhunduli on, janah aekku na huinum on, matema ahu, songon parmateni manuk-manuk nanggordaha. Tapi anggo tanokku do na huhunduli on janah aekku do na huinum on, ahu ma na jadi Tuan ijon."

Seraya membuktikan bahwa tanoh sahoppul (tanah segenggam) yang didudukinya diperlihatkan kepada Tuan Simallobong. Wakil-wakil dari Raja ber-empat di Simalungun dan disaksikan rakyat yang berkumpul, kemudian Raendan pun seraya memperlihatkan Tatabu yang berisi air dan meminumnya dengan mengatakan Aekku Do Na Huinum, sedangkan yang menyatakan bahwa tanah ini adalah tanah kalian dan air ini adalah air kalian adalah tidak benar karena tanah dan air ini adalah milik Oppu Mula Jadi Nabolon. Jadi itulah sebabnya saya menjadi Tuan di sini.

Mendengar pernyataan itulah Tuan Simallobong dan Wakil-Wakil Raja, khususnya rakyat yang berkumpul menerima pernyataan Raendan menjadi Tuan di Pamatang Purba. Demikian akhirnya karena ternyata hari itu juga sampai beberapa waktu berikutnya Raendan tetap segar bugar. Diyakini bija (sumpah) yang diucapkan benar dan diridhoi Tuhan Yang Maha Kuasa menjadi Tuan di Tanah Purba.

Maka pada Tahun 1515 Tuan Raendan disahkan (ipatappei sihilap) menjadi Tuan Purba / Raja Purba yang dikenal dengan Tuan Parultop-Ultop Purba Pakpak. Sejak saat itu resmilah Kerajaan Purba menjadi kerajaan yang kelima (5) di Tanah Simalungun sesudah Kerajaan Siantar, Tanoh Jawa, Dolog Silau, dan Panei.

Setelah Raendan yang dikenal dengan Tuan Parultop-Ultop Purba Pakpak resmi diakui sebagai Tuan Purba. Karena statusnya saat itu masih garama (pemuda belum menikah) maka dengan maksud untuk memperkuat dan tetap mendapat dukungan dari Kerajaan Nagur, kemudian Raendan bersama rombongan mendatangi Tuan Nagur dan meminta agar Boru Tuan Nagur dipersunting menjadi istrinya (Puang Bolon).

Menerima kedatangan Raendan Tuan Parultop-Ultop Purba Pakpak, Tuan Nagur terkejut atas keberaniannya secara langsung meminta, sehingga Tuan Nagur tanpa berpikir panjang menyetujui dan memanggil putrinya yang bernama Tapi Omas Boru Damanik untuk diperistri Raendan sebagai istri pertama. Itulah sebabnya marga Damanik sejak dahulu menjadi Tonding di rumah Purba Pakpak.

Demikian juga istri-istri berikutnya (puang bolon), ada yang boru Saragih, Haloho, dan boru lainnya yang ada di Simalungun, tetap dengan status yang sama, yaitu Puang Bolon.

Raja-Raja di Kerajaan Purba :
1. Raja Purba I yaitu Tuan Raendan gelar Tuan Parultop-Ultop, berkuasa tahun 1515 sd. 1560.
2. Raja Purba II yaitu Tuan Rajiman, berkuasa tahun 1560 sd 1590.
3. Raja Purba III yaitu Tuan Naggar, berkuasa tahun 1590 sd 1631.
4. Raja Purba IV yaitu Tuan Batiran, berkuasa tahun 1631 sd 1650.
5. Raja Purba V yaitu Tuan Bakkaraja, berkuasa tahun 1650 sd 1679.
6. Raja Purba VI yaitu Tuan Baringin, berkuasa tahun 1679 sd 1727.
7. Raja Purba VII yaitu Tuan Bona Batu, berkuasa tahun 1727 sd 1762.
8. Raja Purba VIII yaitu Tuan Rajaulan, berkuasa tahun 1762 sd 1795.
9. Raja Purba IX yaitu Tuan Atian, berkuasa tahun 1795 sd 1830.
10. Raja Purba X yaitu Tuan Hormabulan, berkuasa tahun 1830 sd 1867.
11. Raja Purba XI yaitu Tuan Raondob, berkuasa tahun 1867 sd 1904.
12. Raja Purba XII yaitu Tuan Rahalim, berkuasa tahun 1904 sd 1921.
13. Raja Purba XIII yaitu Tuan Karel Tanjung, berkuasa tahun 1921 sd 1934.
14. Raja Purba XIV yaitu Tuan Mogang, berkuasa tahun 1934 sd 1947.

Pada waktu Kerajaan yang dipimpin oleh Raja Purba yang pertama. Raja juga mengembangkan wilayah kerajaannya dengan cara memberangkatkan Anak Tertuanya menjadi Tuan di salah satu kampung di luar Pamatang Purba. Demikian juga seterusnya, Raja secara turun temurun mengembangkan PARTUANON, kecuali pada Raja Purba ke 13 dan ke 14 adalah satu generasi yakni generasi ke 13. Adapun maksud dan tujuan raja pada masa itu mengembangkan partuanon dari keturunannya adalah untuk memperkuat Kerajaan Purba yang dipimpin pada masa kerajaannya, sekaligus mensejahterakan keturunan dan rakyatnya.

Sejarah singkat di atas seperti yang pernah dituturkan secara lisan oleh Tuan Djalakkup Purba Pakpak, Tuan Parjalangan (Pangulu Parjalangan) yang lahir pada tahun 1882 dan meninggal dunia pada tahun 1986 (pada usia 104 tahun).
Tuan Djalakkup anak dari Tuan Partibi / Tuan Parjalangan, Tuan Subangkit Purba Pakpak.
Tuan Subangkit Purba Pakpak anak dari Tuan Partibi, Tuan Tama Purba Pakpak.
Tuan Tama Purba Pakpak anak dari Tuan Purba Tongah, Tuan Inir Purba Pakpak.
Tuan Inir Purba Pakpak anak dari Tuan Atian, Raja Purba IX.
Kepada cucunya St. Darfin Purba, S.H. anak dari St. Kantur Lenson Purba Pakpak.

Ini hanya sebuah tulisan dari hasil Penuturan, bukan untuk dipertentangkan.

Medan, 23 February 2014, Sy. Kompol Darfin Purba, S.H.




(Ditulis ulang oleh Pandangan Rimbawan)